Assalamu'laykum Wr.Wb.
Ahlan Wa Sahlan??

Kamis, 05 April 2012

Ranah 3 Warna dalam Dakwah

Saya jadi teringat salah satu novel A. Fuadi berjudul Ranah 3 Warna(R3W) dimana inti ceritanya ialah petualangan, pengalaman, atau perjalanan yang dialami oleh Alif (tokoh utama) di tiga lokasi berbeda di kolong langit ini, yaitu Jakarta, Yordania, dan Kanada. Apa korelasinya dengan tulisan ini? Kalau dalam R3W Alif harus berjibaku mengalami manis pahitnya perjuangan di tiga negara berbeda untuk meniti pada tangga kesuksesannya, maka kita pun sebaiknya melalui Ranah 3 Dakwah jika ingin lebih membuat dakwah Islam masif di tengah masyarakat. Ketiga ranah dakwah tersebut ialah sosialisasi, legislasi, dan eksekusi. Ketiga ranah ini saya dapatkan dari Ust. Hepi Andi Bastoni.
Sudah sama-sama kita ketahui bahwa inti dakwah sebenarnya ialah “menyeru/ mengajak kepada kebaikan”. Oleh karena itu, sosialisasi menjadi hal penting pertama yang harus dilakukan. Dalam konteks ini bisa dibetulkan pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Tentu sosialisasi yang dilakukan hendaknya mengusung metode asertif (meminjam istilah yang Akh Febri Zulhenda gunakan dalam tulisannya yang berjudul Jangan Salah Memainkan Senjata).  Para ahli sudah banyak yang mencoba mendefinisikan kata asertif. Namun, di sini saya lebih condong mengambil definisi dari Rathus (1981) yang memberi batasan asertifitas sebagai kemampuan mengekspresikan perasaan, membela hak secara sah dan menolak permintaan yang dianggap tidak layak serta tidak menghina atau meremehkan orang lain. Intinya, penerapan metode asertif dalam upaya dakwah ialah kita menyampaikan dengan bahasa yang tidak menyinggung secara frontal pihak yang jadi target dan mereka bisa menerima pendapat kita itu dengan senang hati. Tentu hal ini tidak mudah kita terapkan di lapangan dakwah yang sesungguhnya. Tapi, bukankah tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin?
Ranah selanjutnya yang harus pula diperjuangkan ialah legislasi. Fakta pentingnya memiliki perwakilan di wilayah kekuasaan strategis untuk kepentingan dakwah sepertinya sulit untuk dibantah. Hal ini karena posisi tetap penting dalam suatu grand planning dakwah di manapun dan kapan pun itu. Memang ada kalanya ketika situasi sedang berada dalam zona yang mudharatnya lebih besar, sebaiknya kita jangan dulu masuk lingkaran tersebut. Namun, kita tidak boleh berhenti untuk memiliki mimpi dan terus berjuang untuk bisa memasuki dan kemudian membenahi lingkaran tersebut. Sampai-sampai Eep Saefullah Fatah, seorang pengamat politik Islam terkemuka di negeri ini pernah menyatakan bahwa lingkaran kekuasaan mutlak diperlukan karena agenda dakwah juga harus menyentuh ranah politik. Beliau mengibaratkan pelaksana agenda dakwah dengan menyebutkan harus ada yang menjadi burung dan cacing di waktu yang sama. Burung artinya mereka yang bertugas di lingkaran kekuasaan. Sedangkan cacing ialah mereka yang diamanahi untuk menjadi pelaksana di lapangan. Tentu saja keduanya tidak berarti yang satu lebih mulia daripada yang lain. Amal dan keikhlasan tetap jadi penentu kemuliaan di sisi Allah SWT. Perumpamaan ini memiliki kaitan yang erat dengan ranah ketiga nanti. Akhirnya, ketika kita sudah bisa mengendalikan semua yang ada dalam lingkaran itu, tentu aturan main, tat tertib, atau semua regulasi yang berlaku bisa kita setting sesuai apa yang kita yakini kebenarannya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Adapun ranah ketiga yaitu eksekusi. Produk yang kita lahirkan dari ranah legislasi nampaknya tidak akan bekerja maksimal jika eksekutornya tidak satu visi dengan kita. Akibatnya, ada kemungkinan besar terjadinya banyak penyimpangan di tataran praktik. Untuk itu, adanya proses kaderisasi untuk menciptakan para eksekutor dengan kualitas dan kuantitas yang hebat tidak bisa kita abaikan. Mengapa? Tentu saja karena kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan “orang kita” yang mungkin pada waktunya nanti akan resign atau hambatan lain yang tidak bisa dihindari.
Mungkin sedikit yang dibahas di atas tidak akan bernilai apapun jika tidak kita upayakan untuk tercipta. Salah satu yang bisa kita lakukan saat ini untuk bisa mencapai tiga ranah tersebut dengan sukses ialah mulai memperbaiki diri dari segala segi. Mengapa hal ini penting? Ketiga ranah tersebut sangat berkaitan erat dengan keberadaan orang-orang di sekitar kita. Sudah seperti menjadi rahasia umum bahwa masyarakat saat ini rata-rata masih cenderung melihat “siapa yang mengatakan” daripada “apa yang dikatakan”. Walaupun idealnya dalam menerima kebaikan yang bersifat universal sebaiknya kita lebih melihat pada aspek “apa yang dikatakan”, bukan “siapa yang mengatakan”. Di sinilah letak urgensi menjadi sosok teladan di tengah masyarakat dibuktikan. Mudah-mudahan segala yang kita lakukan saat ini ialah salah satunya bertujuan untuk menciptakan pribadi teladan yang dengan keteladanannya bisa membawa umat ini menuju kepada cahaya Islam sebenarnya. Cahaya Islam yang terang benderang laksana matahari di siang hari dan bisa memusnahkan kejahiliyahan modern yang lebih ganas daripada zaman Nabi Muhammad SAW dahulu. Aamiiin.

* Tulisan ini adalah episode #2 (tamat) dari tulisan yang terinspirasi saat mengikuti agenda Rihlah dan Silaturahim KAMMI Komisariat Madani pada tanggal 9 Dzulhijjah 1432 H/ 5 November 2011 M bertempat di Pendopo rumah Ust. Hepi Andi Bastoni (penulis dan mantan jurnalis Islam) di kompleks Perum Taman Kenari, Bogor.

Jumat, 20 Januari 2012

Mangkuk yang Cantik, Madu yang Manis dan Sehelai Rambut


Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah Az Zahra r.ha. putri kesayangan Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut ikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu yang manis, dan sehelai rambut).
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.
Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Sumber :
http://kisahislami.com/mangkuk-yang-cantik-madu-yang-manis-dan-sehelai-rambut/

Selasa, 17 Januari 2012

My Sweety Tyas's Birthday

Lama g ngisi blog nih...lagi sibuk (sok sibuk tepatnya :-))

Mau crita tentang ultahnya temenku tersayang...(he...yang satu ini emang biasa ku panggil sayang...)
Udah lama banget sebenernya, tapi baru sempet crita...biar semua tau bagaimana kisah persahabatan kita, he...

Cerita dimulai saat tanggal 11 Agustus lalu...hari dimana 22 tahun yang lalu temenku tyas dilahirkan (g usah pake inisial deh...ribet...gpp kan yas??
Tradisi anak-anak kos air mancur bila ada salah satu penghuninya yang ultah pasti dikasih kejutan, dari mulai akting hantu-hantuan, mati lampu-mati lampuan, siram-siraman air, pecah-pecahan balon, guyur-guyuran tepung, kopi, dsb...pokoknya hal-hal yang ampun banget deh...yang bikin orang yang ultah g mau pulang ke kos, atau kalaupun di kos g mau keluar kamar...(soalnya aku pernah g keluar kamar gara2 mau disiram kopi...he...)
Dan saat tyas ultah...berhubung lagi skripsi kalo g salah waktu itu...jadi ga sempet bikin gitu2an...he...padahal sebenarnya kita males banget...karena kejutan2 kayak tadi ujung2nya bikin capek...capek bersih-bersih, kejar-kejaran...ah...tapi alasan yang paling top itu karena kita udah skripsi, bentar lagi wisuda...jadi ga pantes lagi mainan kayak gitu...kayak anak SMP aja...(sok2an dewasa)

Tapi harus ada kejutan yang so sweet bwt my sweety Tyas...memutar-mutar otak kami lakukan (yang ada pusing...bukan dapet ide...he...) tapi setelah pusing...ide itu muncul...

Kita dapet ide cemerlang...saat itu tyas kan lagi gencar-gencarnya diet nasi...(sedikit penjelasan...iya...tyas anti bgt sama yang namanya nasi selama dietnya itu, yang dia tau ya sayur2an, ikan, telor, tempe, tahu, kentang, roti gandum, sama selai...) kan biasanya kalau orang ngasih itu nyari yang paling diinginkan orang yang mau kita kasih...nah ketemu deh jawabanya...tyas pasti kangen bgt sama yang namanya nasi...he...ini sih antara nyenengin tyas sama menggagalkan program dietnya...habisnya mumpung hari istimewa makan yang istimewa dunk...dan nasi pasti jadi makanan istimewa bwt tyas...
Kalau yang lain ngasih kue tart kita ngasih nasi tumpeng...karena g sempet bikin nasi kuning, yawdah deh...nasi putih aja...tapi kita hias sedemikian rupa sehingga terlihat so sweet dan tyas g tau saat kita hiasnya...ngumpet2nya setengah mati, hari itu tyas malah bikin brownies seharian di dapur, jadi ribet kita nyiapinnya...tapi gpp ding...kapan lagi yang ulang tahun malah yang ngasih kue...bikinan sendiri lagi...tyas emang so sweet...
Saat eksekusi...tyas bener-bener udah ketakutan sampai g mau keluar kamar (takut ada kejutan2 geje kayak biasanya...) dan setelah yang datang adalah tumpeng, wah...surprise katanya...kapan bikinnya??ada deh...perjuangan ngumpet2nya...
Dan akhirnya tumpeng itu kita makan bareng-bareng...kalau bahasa jawanya bancakan..dan tumpeng itu habis tak bersisa...kangen tyas terobati...katanya...gpp...bsk diet lagi...he...
Dan inilah tumpeng bwt my sweety tyas... (semoga jadi kenangan tak terlupakan...maaf g bisa ngasih apa2...:-))