Assalamu'laykum Wr.Wb.
Ahlan Wa Sahlan??

Kamis, 05 April 2012

Ranah 3 Warna dalam Dakwah

Saya jadi teringat salah satu novel A. Fuadi berjudul Ranah 3 Warna(R3W) dimana inti ceritanya ialah petualangan, pengalaman, atau perjalanan yang dialami oleh Alif (tokoh utama) di tiga lokasi berbeda di kolong langit ini, yaitu Jakarta, Yordania, dan Kanada. Apa korelasinya dengan tulisan ini? Kalau dalam R3W Alif harus berjibaku mengalami manis pahitnya perjuangan di tiga negara berbeda untuk meniti pada tangga kesuksesannya, maka kita pun sebaiknya melalui Ranah 3 Dakwah jika ingin lebih membuat dakwah Islam masif di tengah masyarakat. Ketiga ranah dakwah tersebut ialah sosialisasi, legislasi, dan eksekusi. Ketiga ranah ini saya dapatkan dari Ust. Hepi Andi Bastoni.
Sudah sama-sama kita ketahui bahwa inti dakwah sebenarnya ialah “menyeru/ mengajak kepada kebaikan”. Oleh karena itu, sosialisasi menjadi hal penting pertama yang harus dilakukan. Dalam konteks ini bisa dibetulkan pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Tentu sosialisasi yang dilakukan hendaknya mengusung metode asertif (meminjam istilah yang Akh Febri Zulhenda gunakan dalam tulisannya yang berjudul Jangan Salah Memainkan Senjata).  Para ahli sudah banyak yang mencoba mendefinisikan kata asertif. Namun, di sini saya lebih condong mengambil definisi dari Rathus (1981) yang memberi batasan asertifitas sebagai kemampuan mengekspresikan perasaan, membela hak secara sah dan menolak permintaan yang dianggap tidak layak serta tidak menghina atau meremehkan orang lain. Intinya, penerapan metode asertif dalam upaya dakwah ialah kita menyampaikan dengan bahasa yang tidak menyinggung secara frontal pihak yang jadi target dan mereka bisa menerima pendapat kita itu dengan senang hati. Tentu hal ini tidak mudah kita terapkan di lapangan dakwah yang sesungguhnya. Tapi, bukankah tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin?
Ranah selanjutnya yang harus pula diperjuangkan ialah legislasi. Fakta pentingnya memiliki perwakilan di wilayah kekuasaan strategis untuk kepentingan dakwah sepertinya sulit untuk dibantah. Hal ini karena posisi tetap penting dalam suatu grand planning dakwah di manapun dan kapan pun itu. Memang ada kalanya ketika situasi sedang berada dalam zona yang mudharatnya lebih besar, sebaiknya kita jangan dulu masuk lingkaran tersebut. Namun, kita tidak boleh berhenti untuk memiliki mimpi dan terus berjuang untuk bisa memasuki dan kemudian membenahi lingkaran tersebut. Sampai-sampai Eep Saefullah Fatah, seorang pengamat politik Islam terkemuka di negeri ini pernah menyatakan bahwa lingkaran kekuasaan mutlak diperlukan karena agenda dakwah juga harus menyentuh ranah politik. Beliau mengibaratkan pelaksana agenda dakwah dengan menyebutkan harus ada yang menjadi burung dan cacing di waktu yang sama. Burung artinya mereka yang bertugas di lingkaran kekuasaan. Sedangkan cacing ialah mereka yang diamanahi untuk menjadi pelaksana di lapangan. Tentu saja keduanya tidak berarti yang satu lebih mulia daripada yang lain. Amal dan keikhlasan tetap jadi penentu kemuliaan di sisi Allah SWT. Perumpamaan ini memiliki kaitan yang erat dengan ranah ketiga nanti. Akhirnya, ketika kita sudah bisa mengendalikan semua yang ada dalam lingkaran itu, tentu aturan main, tat tertib, atau semua regulasi yang berlaku bisa kita setting sesuai apa yang kita yakini kebenarannya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Adapun ranah ketiga yaitu eksekusi. Produk yang kita lahirkan dari ranah legislasi nampaknya tidak akan bekerja maksimal jika eksekutornya tidak satu visi dengan kita. Akibatnya, ada kemungkinan besar terjadinya banyak penyimpangan di tataran praktik. Untuk itu, adanya proses kaderisasi untuk menciptakan para eksekutor dengan kualitas dan kuantitas yang hebat tidak bisa kita abaikan. Mengapa? Tentu saja karena kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan “orang kita” yang mungkin pada waktunya nanti akan resign atau hambatan lain yang tidak bisa dihindari.
Mungkin sedikit yang dibahas di atas tidak akan bernilai apapun jika tidak kita upayakan untuk tercipta. Salah satu yang bisa kita lakukan saat ini untuk bisa mencapai tiga ranah tersebut dengan sukses ialah mulai memperbaiki diri dari segala segi. Mengapa hal ini penting? Ketiga ranah tersebut sangat berkaitan erat dengan keberadaan orang-orang di sekitar kita. Sudah seperti menjadi rahasia umum bahwa masyarakat saat ini rata-rata masih cenderung melihat “siapa yang mengatakan” daripada “apa yang dikatakan”. Walaupun idealnya dalam menerima kebaikan yang bersifat universal sebaiknya kita lebih melihat pada aspek “apa yang dikatakan”, bukan “siapa yang mengatakan”. Di sinilah letak urgensi menjadi sosok teladan di tengah masyarakat dibuktikan. Mudah-mudahan segala yang kita lakukan saat ini ialah salah satunya bertujuan untuk menciptakan pribadi teladan yang dengan keteladanannya bisa membawa umat ini menuju kepada cahaya Islam sebenarnya. Cahaya Islam yang terang benderang laksana matahari di siang hari dan bisa memusnahkan kejahiliyahan modern yang lebih ganas daripada zaman Nabi Muhammad SAW dahulu. Aamiiin.

* Tulisan ini adalah episode #2 (tamat) dari tulisan yang terinspirasi saat mengikuti agenda Rihlah dan Silaturahim KAMMI Komisariat Madani pada tanggal 9 Dzulhijjah 1432 H/ 5 November 2011 M bertempat di Pendopo rumah Ust. Hepi Andi Bastoni (penulis dan mantan jurnalis Islam) di kompleks Perum Taman Kenari, Bogor.

Jumat, 20 Januari 2012

Mangkuk yang Cantik, Madu yang Manis dan Sehelai Rambut


Rasulullah SAW dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar bin Khattab r.a., Utsman bin Affan r.a., dan ‘Ali bin Abi Thalib r.a. bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Fathimah Az Zahra r.ha. putri kesayangan Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut ikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu yang manis, dan sehelai rambut).
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.
Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Sumber :
http://kisahislami.com/mangkuk-yang-cantik-madu-yang-manis-dan-sehelai-rambut/

Selasa, 17 Januari 2012

My Sweety Tyas's Birthday

Lama g ngisi blog nih...lagi sibuk (sok sibuk tepatnya :-))

Mau crita tentang ultahnya temenku tersayang...(he...yang satu ini emang biasa ku panggil sayang...)
Udah lama banget sebenernya, tapi baru sempet crita...biar semua tau bagaimana kisah persahabatan kita, he...

Cerita dimulai saat tanggal 11 Agustus lalu...hari dimana 22 tahun yang lalu temenku tyas dilahirkan (g usah pake inisial deh...ribet...gpp kan yas??
Tradisi anak-anak kos air mancur bila ada salah satu penghuninya yang ultah pasti dikasih kejutan, dari mulai akting hantu-hantuan, mati lampu-mati lampuan, siram-siraman air, pecah-pecahan balon, guyur-guyuran tepung, kopi, dsb...pokoknya hal-hal yang ampun banget deh...yang bikin orang yang ultah g mau pulang ke kos, atau kalaupun di kos g mau keluar kamar...(soalnya aku pernah g keluar kamar gara2 mau disiram kopi...he...)
Dan saat tyas ultah...berhubung lagi skripsi kalo g salah waktu itu...jadi ga sempet bikin gitu2an...he...padahal sebenarnya kita males banget...karena kejutan2 kayak tadi ujung2nya bikin capek...capek bersih-bersih, kejar-kejaran...ah...tapi alasan yang paling top itu karena kita udah skripsi, bentar lagi wisuda...jadi ga pantes lagi mainan kayak gitu...kayak anak SMP aja...(sok2an dewasa)

Tapi harus ada kejutan yang so sweet bwt my sweety Tyas...memutar-mutar otak kami lakukan (yang ada pusing...bukan dapet ide...he...) tapi setelah pusing...ide itu muncul...

Kita dapet ide cemerlang...saat itu tyas kan lagi gencar-gencarnya diet nasi...(sedikit penjelasan...iya...tyas anti bgt sama yang namanya nasi selama dietnya itu, yang dia tau ya sayur2an, ikan, telor, tempe, tahu, kentang, roti gandum, sama selai...) kan biasanya kalau orang ngasih itu nyari yang paling diinginkan orang yang mau kita kasih...nah ketemu deh jawabanya...tyas pasti kangen bgt sama yang namanya nasi...he...ini sih antara nyenengin tyas sama menggagalkan program dietnya...habisnya mumpung hari istimewa makan yang istimewa dunk...dan nasi pasti jadi makanan istimewa bwt tyas...
Kalau yang lain ngasih kue tart kita ngasih nasi tumpeng...karena g sempet bikin nasi kuning, yawdah deh...nasi putih aja...tapi kita hias sedemikian rupa sehingga terlihat so sweet dan tyas g tau saat kita hiasnya...ngumpet2nya setengah mati, hari itu tyas malah bikin brownies seharian di dapur, jadi ribet kita nyiapinnya...tapi gpp ding...kapan lagi yang ulang tahun malah yang ngasih kue...bikinan sendiri lagi...tyas emang so sweet...
Saat eksekusi...tyas bener-bener udah ketakutan sampai g mau keluar kamar (takut ada kejutan2 geje kayak biasanya...) dan setelah yang datang adalah tumpeng, wah...surprise katanya...kapan bikinnya??ada deh...perjuangan ngumpet2nya...
Dan akhirnya tumpeng itu kita makan bareng-bareng...kalau bahasa jawanya bancakan..dan tumpeng itu habis tak bersisa...kangen tyas terobati...katanya...gpp...bsk diet lagi...he...
Dan inilah tumpeng bwt my sweety tyas... (semoga jadi kenangan tak terlupakan...maaf g bisa ngasih apa2...:-))


Minggu, 29 Mei 2011

Aku dan Purworejoku (Kenalan Yuk...!!!)

Sebuah kota yang selalu membuatku kagen...kangen menghirup udaranya...kangen bertemu dengan orang-orangnya...kangen menginjakkan kaki di tanahnya...makan dari padi yang tumbuh dari tanahnya...emmm...pokoknya semuanya selalu membuatku ingin kembali dan kembali pulang ke kampung halamanku itu...
Kampung??ya memang lebih layak disebut kampung dari pada kota...sangat jauh tentu dengan kota Jakarta, dimana aku menghabiskan waktu selama 4 tahun ini untuk berkutat dengan ilmu statistik...tapi cintaku pada Purworejo seperti tak pernah tergantikan...Lahir...besar...dan menghabiskan 17 tahun di kabupaten ini membuatku merasa sangat memilikinya....
Mungkin ini yang lantas membuatku memilih kabupatenku untuk menjadi daerah penelitian skripsiku...dari awal memang sudah ingin menulis tentang Purworejo, ketika topik ku ajukan, ternyata butuh konfirmasi, akhirnya aku ambil topik tentang perbandingan prestasi berdasar asal daerah yang diterima (maksudnya biar g repot konfirmasi)....tapi, setelah sampai dosen pembimbing topik itu diminta untuk diganti...sudah dipertahankan tapi tetap tak mampu dilanjutkan...rupanya takdir memang membawaku pada topik Purworejo...ku ajukan topik itu dan dengan perbaikan akhirnya diterima...saatnya memberi yang mampu aku beri ke Purworejoku tercinta...semoga dapat bermanfaat, aku begitu mengenal kabupaten itu dan semoga aku tau yang dapat dilakukan untuk Purworejo...
Kabupaten yang serba lengkap bentang alamnya....mau cari apa???pegunungan yang sawahnya terasering??silahkan datang ke daerah utara yang berbatasan dengan Magelang...udaranya masih dingin...sungai dengan batu-batu besar yang masih sangat jernih airnya...
Mau ke daerah dataran tinggi yang bisa puas menemukan buah manggis, duku, kopi, atau kambing etawa yang besarnya hampir menyerupai sapi...dan g ada di daerah lain??silahkan datang ke Kecamatan Kaligesing...berpetualang di kecamatan ini dengan motor (tentunya yang mampu diajak menerjang jalan berbatu dan menanjak) pasti menyenangkan...menyusuri 3 gowa di kecamatan ini tentu sangat menantang bagi mereka yang biasa disebut pecinta alam...
Atau ingin daerah yang lebih tinggi lagi???bisa ke Kecamatan Bruno, titik tertinggi di Kabupaten Purworejo, alamnya masih sangat asri dan udaranya yang masih jauh dari polusi kota Purworejo...dan masih banyak tempat lain yang termasuk dataran tinggi di Purworejo...
Udah yang tinggi2...mau liat yang dataran rendah sampai pantai??juga ada di kabupaten ini...silahkan bergerak ke arah selatan...akan menemukan luasnya samudera hindia di pantai selatan...banyak pantai di kabupaten ini, mulai Pantai Ketawang, Pasir Puncu, Glagah, Jati Malang, dan pantai lain sepanjang pantai selatan...kembali untuk para pecinta alam...susur pantai dengan sepeda sangat menyenangkan, habisi saja 4 pantai itu pasti cukup membuat terpesona dengan ombak pantai selatan yang terkenal menggulung-gulung dan tinggi...(jangan pernah mencoba berenang di pantai selatan, bukan takut nyi loro kidul tapi palung2 lautnya terkenal dalam dan ombaknya ganas....)
Sekarang liat kotanya yuk...tak jauh dengan jogja dan solo yang masih sarat dengan sejarah...kota Purworejo sendiri juga mempunyai sejarah yang unik...diceritakan sebagai bagian dari kerajaan mataram waktu itu, Purworejo yang dulu bernama Bagelen merupakan salah satu kota tua di Indonesia yang dulu sangat ramai...bahkan Purworejo konon diambil dari kata Purwo yang artinya (kira-kira) telah atau pernah, dan rejo yang artinya makmur, ramai, jaya, gitu deh...jadi dulunya kota ini sangat ramai dan makmurlah...lalu sekarang??? mari kita lihat....
Tata kotanya masih tempo dulu banget...pusat kota yang merupakan alun-alun diapit oleh masjid agung Purworejo dan Gereja terbesar di Purworejo di sisi barat dan timur... di selatan ada kantor bupati dan di utara ada pendawa kabupaten....menghabiskan malam di alun-alun pasti sangat memuaskan...berwisata kuliner malam hari pasti sangat puas...setiap malam akan buanyak sekali pedagang lesehan di alun-alun...menikmati malam di kota kecil ini sambil menikmati ronde yang hangat, atau es bubur kacang hijau yang segar, bakso, mie, pecel lele, sea food, dkk lengkap tersedia di sini, dijamin puas...Ada lagi...bagi yang mau menikmati duren, Purworejo juga terkenal sebagai penghasil duren, datang ke Kecamatan Bagelen pasti puas bila musim duren datang...
Atau bagi yang suka jalan-jalan pagi...silahkan sholat subuh di Masjid Agung yang terkenal dengan bedug nya yang TERBESAR DI DUNIA, banyak yang tidak tau mungkin...tapi bedug bagelen ini memang sangat besar dan terbuat dari satu pohon dan sudah berusia ratusan tahun...sekarang sih yang dipakai yang duplikatnya tapi...yang asli masih bisa dilihat kok...setelah sholat subuh, di alun-alun ada penjual soto dan bubur ayam yang yummi...biar laper mending joging dulu...satu putaran alun-alun penuh saja sudah cukup membuat peluh mengalir...dan melahap bubur ayam atau soto sebagai sarapan pasti serasa jauh lebih nikmat...(wuih...jadi pengen lagi makan di sana)...
Kalau masalah fasilitas memang masih sangat kurang...jauh dari kota lain seperti jogja atau bahkan magelang...jangan mencari mall di Purworejo, tak ada giant, carefur, matahari, kfc, pizza hut, mc D, atau apalah itu...yang ada adalah pasar Baledono yang lebih lengkap dari Giant, atau toko-toko baju di sepanjang jalan KHA Dahlan dan A.Yani yang tidak kalah dengan matahari, he...tapi kalau cuma nyari indomaret atau alfamart bertebaran dimana-mana kok, he...
Itulah...Purworejo sekarang, banyak ditinggalkan generasi mudanya untuk merantau karena merasa Purworejo tidak menjamin masa depannya, amat sangat perlu dibangun...dan semoga aku bisa ikut berkontribusi, meski aku juga ikut meninggalkannya, tapi aku ingin suatu hari nanti kembali ke kabupatenku itu dan memberikan yang terbaik untuk kabupatenku tercinta....
Kabupaten yang berpotensi sebenarnya tapi kok jadi g maju ya??padahal dulu kan ramai, makmur,...sekarang seperti ketinggalan dengan kabupaten di sekitarnya, ayo dunk bergerak...buat wong Purworejo yang baca semoga memotivasi untuk membangun kabupaten ini...

Intinya seperti apapun kabupatenku...I love it...aku bangga dan aku tetep cinta...dimanapun kaki ini berpijak kau tetap daerah pertama bagiku...yang lainnya adalah kedua...ketiga...dan seterusnya...

Bersambung...

(ditulis di Jakarta, daerah keduaku...(sementara ini...))

Jumat, 18 Februari 2011

tentang rasa (biarkan aku yang tau)

aku rindu...
rindu mendengar...rindu melihat...rindu merasakan...
bahkan, aku rindu mengingat...
telah lama aku mencoba untuk tak mengingatnya lagi...menolak untuk merasakannya lagi...dan bahkan sebenarnya menghindar untuk mendengarnya...apalagi melihatnya...
tapi aku tak sekuat itu...
aku tak setegar itu...tak serela itu..
karna tak mudah untuk melupakannya...
karna tak ringan untuk meninggalkannya...
tentang apa...yang pernah ku impikan...
yang pernah ku harapkan meski sesungguhnya semu...
ah...sudahlah...biarkan rindu ini datang sesukanya....
dan pergi semaunya...
biar kunikmati rasa ini bersama air mata yang setia mengiringi perih dan menghadirkan lega...


(air mancur, bersama cinta dan tawa)

Senin, 31 Januari 2011

Lihat Hasil Karya Adek Les ku


meski mbak lesnya g bisa nggambar, tapi adknya jago lho...he...yang kayak gini aja dibilang adk,he...apa mau dibilang muridku??wah...jangan... hanya sangat sedikit yang aku ajarkan padamu...he...
Makasih adekku...udah jadi pengisi hari-hariku, membantuku mencukupi apa yang belum cukup, maaf kalo selama ini banyak kurangnya...semoga ukhuwah ini tetap terjalin...amien...

Kamis, 27 Januari 2011

Kesenjangan Pendidikan di Indonesia (Sharing latar belakang Skripsiku)


Rasanya tidak akan ada habisnya membicarakan pendidikan di Negara Indonesia tercinta ini. Masalah demi masalah memang perlu dikaji untuk mencari jalan keluar terbaik dalam rangka menyelesaikan masalah yang ada atau sekedar meminimalisir dampak masalah yang mungkin terjadi. Negara ini memang masih berbenah dalam segala hal termasuk pendidikan. Pendidikan memang menjadi hal yang paling sering menjadi sorotan, karena lewat pendidikanlah sesuatu perubahan dimulai. Penciptaan generasi muda yang memiliki kemampuan ilmu pengetahuan yang dengan ilmu pengetahuan itu dapat melakukan pembangunan di segala bidang merupakan alasan umum mengapa pendidikan menjadi begiu penting.
Ironi yang justru terjadi dengan pendidikan di negara yang begitu luas ini adalah pendidikan tidak meluas merata ke seluruh penjuru nusantara. Di era pembangunan yang sedang gencar-gencarnya ini, kesenjangan masih dirasakan oleh wilayah-wilayah Indonesia yang berada jauh dari jangkauan pemerintah pusat. Wilayah Indonesia yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kawasan yaitu kawasan barat dan kawasan timur, dimana letak pemerintahan pusat berada di kawasan barat membuat kesenjangan dalam banyak bidang antara kawasan barat yang dianggap sebagai pusat pemerintahan dan pusat pembangunan dengan kawasan timur Indonesia yang cenderung sulit dijangkau dari pusat pemerintahan. Berdasarkan data terakhir Kementrian Daerah Tertinggal, dari 183 daerah tertinggal di Indonesia, 70% berada di kawasan timur Indonesia.
Kesenjangan yang terjadi tersebut dapat terlihat dari beberapa indikator, diantaranya angka putus sekolah menengah pertama (SMP) tertinggi tahun ini terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yang tidak lain terletak di kawasan Indonesia timur. Kondisi ini terjadi karena selain kekurangan biaya, juga jumlah sekolah yang terbatas sebagai sarana pendidikan para siswa. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat pendidikan di SMP merupakan bagian dari program wajib belajar 9 tahun. Bila dilihat dari angka ketidaklulusan SMP tahun 2010, provinsi yang menduduki dua peringkat tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur dengan angka ketidaklulusan mencapai 39.87% dan Gorontalo dengan angka 38.80%, kedua provinsi ini terletak di kawasan Indonesia timur. Untuk angka mengulang ujian nasional atau ketidaklulusan tingkat SMA dan sederajat, kedua provinsi ini juga tetap menjadi yang tertinggi, dengan angka 52.08% untuk Nusa Tenggara Timur, 46.22% untuk Gorontalo, dan ditambah Maluku Utara diurutan ketiga dengan angka ketidaklulusan 41.16% yang semakin menambah panjang daftar provinsi dengan angka ketidaklulusan tertinggi yang berasal dari kawasan Indonesia timur.
Dalam materi Strategi dan Kebijakan Pembangunan Wilayah Kawasan Timur Indonesia, faktor penyebab utama kesanjangan antar daerah adalah sumber daya manusia, sumber daya alam,  infrastruktur, investasi, dan institusi. Faktor utama yang menyebabkan kesenjangan pendidikan adalah sumber daya manusia dan infrastruktur. Fenomena yang muncul adalah kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas di kawasan Indonesia timur, dalam hal ini adalah tenaga pengajar baik guru maupun dosen yang sangat dibutuhkan dalam pembanguan pendidikan. Masalah infrastruktur juga tidak dapat dianggap remeh dalam permasalahan penyebab kesenjangan antar daerah. Bedasarkan data Kementrian PDT tahun 2005, aspek permasalahan daerah tertinggal yang terbesar adalah aspek sarana dan prasarana yaitu sebesar 50.81%, disusul aspek perekonomian lokal sebesar 18.39%, aspek sumber daya manusia 17.41%, aspek bencana alam dan konflik 9.38% serta  aspek kelembagaan daerah sebesar 4.02%. Aspek sarana dan prasarana yang berkaitan dengan tercapainya pendidikan tidak hanya jumlah dan kondisi gedung sekolah atau tempat-tempat pendidikan, tetapi juga akses menuju tempat pendidikan tersebut yang dalam hal ini berupa kondisi jalan.
Fenomena ketimpangan wilayah yang terlihat dari hasil data Bappenas dalam hal pembangunan infrastruktur diantaranya adalah kawasan barat Indonesia yang luas wilayahnya hanya 31.25% dari luas nasional dilayani jalan nasional dan propinsi yang total panjagnya encapai 37.687,5 km. Sementara itu wilayah kawasan timur Indonesia yang luasnya mencakup 68.75% dari luas nasional dilayani jalan nasional dan propinsi yang total panjangnya hanya 33.241,2 km. Kesenjangan pelayanan jalan ini semakin parah bila melihat kondisi jalan per Maret 2006, dimana lima provinsi tertinggi yang memiliki jalan rusak sebagian besar di kawasan timur Indonesia yaitu Kalteng (76%), Gorontalo (59.9%), Susel (54.2%), Maluku Utara (51.6%).